Minyak Dunia Meroket, Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Asia Dibayangi Tekanan Ekonomi

Jakarta | Buserjatim.com – Gejolak ekonomi global kembali memukul negara-negara Asia. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang hampir menembus US$92 per barel membuat tekanan terhadap mata uang kawasan semakin berat, termasuk rupiah yang kini nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi di tengah inflasi global yang belum mereda. Kondisi tersebut mendorong investor memburu aset berbasis dolar sehingga mata uang Asia mengalami pelemahan serentak.

Data Trading Economics per Jumat (24/7/2026) menunjukkan Yen Jepang melemah hingga USD/JPY 163,78, sedangkan Peso Filipina terdepresiasi ke USD/PHP 61,82. Di Indonesia, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.963 per dolar AS, sementara kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.973 per dolar AS.

Analis Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan dan menyiapkan berbagai instrumen penguatan devisa, termasuk kebijakan DHE SDA.

Menurutnya, meningkatnya eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang membebani negara-negara pengimpor energi di Asia. Di sisi lain, fenomena petrodollar ikut memperkuat permintaan terhadap dolar AS sehingga memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

“Lonjakan harga minyak akan meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi dan memicu imported inflation. Dampaknya bukan hanya pada nilai tukar, tetapi juga biaya produksi, transportasi, logistik hingga harga barang konsumsi,” ujarnya.

Indonesia bersama Jepang, Filipina dan India dinilai menjadi kelompok negara yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi karena masih bergantung pada impor minyak. Kondisi tersebut berpotensi memaksa bank sentral di kawasan Asia mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas nilai tukar.

Di tengah tekanan tersebut, Yuan Tiongkok dan Dolar Singapura dinilai masih relatif lebih tangguh. Stabilitas kedua mata uang tersebut ditopang oleh pengelolaan aktif bank sentral masing-masing, surplus transaksi berjalan, serta fundamental ekonomi yang lebih kuat.

Untuk kuartal III tahun 2026, Brahmantya memproyeksikan nilai tukar USD/IDR berpotensi bergerak di kisaran Rp18.500 hingga Rp19.000 per dolar AS, sedangkan USD/JPY diperkirakan berada di rentang 165–170, apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan dolar AS terus menguat.

Kondisi ini menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi, daya beli masyarakat, serta biaya operasional dunia usaha. Jika tekanan global tidak segera mereda, bukan hanya nilai tukar yang terancam, tetapi juga laju pertumbuhan ekonomi nasional.(Ghufron/Red)

Pos terkait