Pinrang — Jalan itu berlubang dan berlumpur. Di beberapa titik, genangan air bercampur timbunan kerikil yang baru saja diratakan. Di sanalah warga Dusun Lero B, Desa Wiring Tasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, berdiri dengan cangkul dan sekop di tangan.13/2
Mereka tidak sedang berunjuk rasa. Tidak pula menanam pohon pisang di tengah jalan sebagai simbol protes. Mereka memilih cara lain: bekerja.
“Kalau kita tunggu terus, rusaknya tambah parah,” ujar Pua’ Awi, seorang warga yang ikut menimbun jalan siang itu. Tangannya masih berbalut lumpur. “Ini jalan kami pakai tiap hari. Mau angkut ikan, mau bawa hasil kebun. Tidak bisa berhenti cuma karena berlubang.”
Jalan tersebut menjadi akses utama warga menuju pusat pemerintahan di Pinrang. Ia bukan sekadar lintasan kendaraan, melainkan nadi ekonomi masyarakat pesisir dan petani setempat. Setiap pagi, hasil laut dan pertanian melintas di jalur itu—ikan segar dari tambak, hasil tangkapan nelayan, hingga panen kebun yang menjadi tumpuan hidup keluarga.
Namun kondisi jalan yang rusak kerap menyulitkan mobilitas. Saat hujan turun, lubang-lubang tertutup air dan berubah menjadi kubangan. Kendaraan roda dua rawan tergelincir, sementara mobil pengangkut hasil panen harus berjalan perlahan untuk menghindari kerusakan lebih parah.
Melihat kondisi itu, warga sepakat menggelar kerja bakti. Mereka mengumpulkan dana swadaya untuk membeli material seadanya, seperti kerikil dan pasir, lalu meratakannya di titik-titik yang dianggap paling parah.
Aksi gotong royong tersebut menjadi cerminan kuatnya solidaritas masyarakat desa. Tanpa menunggu alat berat atau proyek resmi, warga memilih bergerak agar aktivitas ekonomi tidak terhenti.
Meski demikian, warga tetap berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah. Perbaikan permanen dinilai penting agar jalan tidak kembali rusak dalam waktu singkat, terlebih jalur tersebut menjadi akses vital distribusi hasil laut dan pertanian dari wilayah Suppa.
“Kalau cuma ditimbun begini, paling tahan beberapa bulan. Kami tetap berharap ada perbaikan menyeluruh,” kata warga lainnya.
Di tengah keterbatasan, warga Lero B menunjukkan bahwa kepedulian bisa menjadi solusi awal. Di atas jalan berlumpur itu, gotong royong menjadi bukti bahwa ketika harapan belum datang dari atas, masyarakat bisa memulainya dari bawah.






