Dinkes Pinrang Akui Sampel Makanan MBG Positif Bakteri, Ayam Tak Layak Diduga Jadi Pemicu

BUSERJATIM.COM –

Pinrang – Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang akhirnya angkat bicara mengenai insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa delapan orang santri di salah satu pesantren di daerah Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

Insiden ini terjadi setelah para santri mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada hari Rabu 28 Januari 2026, lalu.

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga (Kesling Kesjaor) Dinas Kesehatan Pinrang, Ghafur, menjelaskan bahwa laporan awal diterima dari pihak sekolah setelah sejumlah santri menunjukkan gejala medis usai menyantap makan siang sekitar pukul 13.00 WITA.

“Hasil Uji Sampel, Positif Bakteri pada Ayam,Berdasarkan hasil uji cepat (rapid test) terhadap sampel makanan yang diambil dari lokasi kejadian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pinrang, menemukan adanya indikasi kuat kontaminasi bakteri,” ucap Ghafur saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (2/2/2026).

Hasil uji menunjukkan, adanya bakteri pada sampel daging ayam. Meskipun bukan jenis E, coli, terdapat bakteri lain yang memerlukan pengujian laboratorium lebih mendalam untuk diidentifikasi jenisnya secara spesifik.

Ghafur menegaskan bahwa, hasil uji fisik dan kimia untuk kandungan berbahaya seperti boraks dan formalin pada ayam maupun tempe dinyatakan negatif.
Dugaan Penyebab: Kualitas Bahan Baku dan Higienitas.

Dinkes menduga, ada beberapa faktor yang memicu kejadian ini, di antaranya:
Pencampuran Bahan Baku: Diduga terjadi pencampuran antara daging ayam segar dengan daging yang sudah tidak layak saat proses penyortiran.

Saat inspeksi, ditemukan bahwa proses pendinginan makanan hanya menggunakan kipas angin biasa, bukan alat pendingin ruangan yang standar. Hal ini berisiko membuat debu menempel dan merusak kualitas makanan, lanjutnya.

Ditambahkannya, makanan yang sudah matang idealnya dikonsumsi maksimal 30 menit hingga 1 jam setelah tiba. Jika dibiarkan lebih dari 4 jam di suhu ruang, risiko basi sangat tinggi.

“Gejala yang dialami para santri meliputi nyeri ulu hati, pusing, mual, hingga muntah. Saat ini kami menekankan pentingnya penggunaan terminal makanan dan pendingin udara yang tepat agar suhu makanan terjaga di bawah 5-6 derajat Celcius untuk menghindari risiko bakteri,” ujar Ghafur.

Pihak Dinas Kesehatan terus mengimbau pengelola program MBG untuk lebih memperhatikan standar higienitas mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses penyajian guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

Terpisah, Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Pinrang, Nining Angreani yang dikonfirmasi via selluler menyampaikan bahwa, untuk sementara SPPG Binanga Karaeng ditutup untuk sementara.

“SPPG Lembang Binanga Karaeng kami tutup sementara pak,” ucapnya singkat.(*/)

Pos terkait