BEBANDEM KARANGASEM, BUSERJATIM.COM GROUP – Warga Pura Dadya Maksan Kawan, PGSDT (Pare Maha Gotra Sentana Dalem Tarukan) kembali melayangkan keluhan keras terhadap ketidakpedulian dinas terkait atas permohonan lampu penerangan jalan (LPJ) yang sudah berkali-kali diajukan, namun tak kunjung mendapat tanggapan.
Lokasi pura yang menaungi dua dadya dengan total sekitar 100 kepala keluarga pangempon, setiap pelaksanaan piodalan dan pujawali selalu ramai dan padat. Hal ini karena adanya tradisi saling katuran dan nedunang sesuhunan dari tiga dadya semeton, ditambah pemedek dari lingkungan sekitar yang datang untuk menghaturkan bakti kepada Ida Bhatara Berati yang berstana di pura tersebut.
Namun di balik kesakralan itu, warga dihadapkan pada situasi berbahaya di jalan depan pura, yang berjarak hanya sekitar 50 meter dari area utama. Jalan tersebut sempit, gelap, dan rawan kecelakaan, bahkan telah menelan korban jiwa akibat pengendara yang menabrak pejalan kaki di malam hari.
“Sudah sering terjadi kecelakaan, bahkan ada yang meninggal. Kami sudah berkali-kali mengajukan LPJ, tapi tidak pernah direspons. Sementara tiang listrik justru berdiri di pekarangan warga. Kami merasa diabaikan,” ungkap salah seorang tokoh pengempon pura dengan nada kecewa.
Permohonan resmi sudah disampaikan melalui kantor desa oleh tokoh krama pengempon, bahkan telah diajukan ke PLN dan Dinas Perhubungan. Namun, hingga menjelang Purnama Kelima ini, belum ada keputusan atau realisasi yang turun ke lapangan.
“Kami hanya ingin ada penerangan agar umat bisa beraktivitas dengan aman, terutama saat piodalan dua dadya berlangsung bersamaan. Tapi sampai sekarang, tidak ada tindak lanjut apa pun. Seolah-olah kami ini tidak dianggap,” tambah warga lainnya.
Warga berharap agar anggota DPRD Dapil Bebandem segera turun tangan memperjuangkan hak masyarakat, terutama demi keselamatan dan kenyamanan umat dalam menjalankan aktivitas keagamaan di pura.
Kondisi ini, menurut warga, sudah sangat memprihatinkan. Di saat tiang listrik berdiri di pekarangan warga, justru lampu penerangan jalan yang dibutuhkan tidak kunjung diberikan. Mereka menilai, petugas dan dinas terkait hanya menjalankan kemauan sepihak tanpa memperhatikan kebutuhan warga.
“Kami sudah sabar. Tapi kalau setiap kali piodalan datang, gelap lagi, bahaya lagi, sampai ada korban lagi, mau sampai kapan kami dibiarkan?” tegas warga
Warga berharap sebelum Purnama Kelima tiba, penerangan jalan dapat segera dipasang, agar pelaksanaan upacara piodalan berikutnya bisa berjalan aman, nyaman, dan layak bagi seluruh pangempon dan pemedek.






