BUSERJATIM.COM –
Jembrana — Duka perlahan merayap di kandang-kandang sederhana milik peternak rakyat di Kabupaten Jembrana, Bali. Di balik hijaunya ladang dan sunyinya desa-desa pinggiran, tersimpan kegelisahan mendalam: satu per satu sapi, tumpuan hidup keluarga, mulai roboh dihantam penyakit misterius yang belum bernama pasti.
Penyakit itu datang tanpa aba-aba. Kulit sapi dipenuhi bentol-bentol kasar menyerupai kurap, tubuhnya melemah, nafsu makan menghilang, dan perlahan harapan pun ikut memudar. Bagi peternak kecil, ini bukan sekadar penyakit hewan—ini adalah ancaman langsung terhadap keberlangsungan hidup.
Peristiwa paling memilukan terjadi di Banjar Bendel, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya. Pada 4 Januari 2025, seekor anak sapi berusia tiga bulan ditemukan mati di kandang, terbaring kaku di dekat induknya. Tubuh kecilnya penuh bentol, matanya sayu, seolah merekam penderitaan yang tak sempat tertolong.
“Kami ini peternak kecil. Sapi itu harapan hidup kami,” ujar Ketut Suwita, pemilik sapi, dengan suara tertahan dan mata berkaca-kaca.
“Kalau tidak segera ditangani, saya takut sapi lain mati juga seperti kemarin,” tambahnya lirih.
Kesedihan Suwita bukan satu-satunya. Di sudut lain Desa Manistutu, seekor anak sapi tampak kurus, kulitnya rusak parah, tulang-tulang menonjol, dan hanya bisa berdiri lemas menunggu nasib. Informasi dari lapangan menyebutkan, penyakit misterius ini diduga telah menyebar ke sedikitnya lima desa di Jembrana. Jumlah sapi yang terjangkit disebut mencapai sekitar 28 ekor—angka yang cukup untuk membuat peternak resah dan tidur tak nyenyak.
Kekhawatiran warga pun menjalar cepat. Penyakit ini diduga mengarah pada Lumpy Skin Disease (LSD), wabah yang selama ini ditakuti peternak sapi. Namun di tengah kecemasan, kepastian belum juga datang.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengakui pihaknya telah menurunkan tim ke lapangan. Namun, ia menegaskan bahwa hingga kini belum bisa memastikan penyakit tersebut sebagai LSD.
“Kami belum berani memastikan itu dugaan LSD. Bali selama ini dinyatakan bebas LSD. Ada penyakit lain yang gejalanya mirip, misalnya demodikosis akibat perubahan cuaca,” jelasnya saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).
Menurut Sugiarta, kemiripan gejala klinis membuat pemeriksaan laboratorium menjadi langkah mutlak. Dinas Pertanian Jembrana berencana menggandeng Balai Besar Veteriner (BBVet) untuk melakukan uji sampel darah guna memastikan jenis penyakit yang menyerang ternak warga.
“Laporan sapi mati memang ada. Penyakit sapi itu banyak. Secara umum kelihatannya tidak mematikan, tetapi stres berat bisa menyebabkan kematian, apalagi pada sapi anakan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Sugiarta berusaha menenangkan masyarakat agar tidak terjebak kepanikan berlebihan. Ia menjelaskan bahwa jika pun penyakit tersebut adalah LSD, penularannya tidak melalui udara, melainkan melalui perantara serangga seperti nyamuk dan lalat.
“Penyakit ini bukan zoonosis, tidak menular ke manusia. Dagingnya pun masih bisa diolah,” tegasnya.
Data resmi Dinas Pertanian Jembrana mencatat sekitar tujuh ekor sapi yang telah dilaporkan secara administratif mengalami gejala serupa, dan beberapa di antaranya dilaporkan telah sembuh setelah penanganan awal. Sebagai langkah darurat, petugas melakukan penyemprotan disinfektan di kandang-kandang yang terindikasi kasus.
“Setiap laporan langsung kami tindak lanjuti dengan spraying disinfektan. Kami imbau peternak lebih waspada, karena perubahan musim sangat memicu munculnya penyakit. Untuk langkah lanjutan, kami menunggu hasil uji sampel darah,” pungkasnya.
Namun bagi peternak, menunggu bukan perkara mudah. Setiap hari tanpa kepastian adalah hari penuh kecemasan. Setiap sapi yang terlihat lesu terasa seperti lonceng kematian yang bisa berbunyi kapan saja.
Seorang tokoh masyarakat Jembrana pun angkat suara. Ia mendesak Pemerintah Provinsi Bali untuk tidak menutup mata terhadap situasi ini. Menurutnya, langkah cepat dan tegas sangat dibutuhkan agar penyakit tidak meluas.
“Kami minta Pemprov Bali segera turun tangan serius. Untuk sementara, penjualan dan lalu lintas keluar-masuk sapi di Bali sebaiknya diblokade dulu beberapa bulan ke depan. Jangan sampai penyakit ini menyebar dan menghancurkan peternak di daerah lain,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian, para peternak Jembrana hanya bisa berharap. Berharap pada kepedulian pemerintah, berharap pada kecepatan penanganan, dan berharap agar sapi-sapi mereka—yang selama ini menjadi sandaran hidup—tidak lagi menjadi korban dari penyakit misterius yang datang tanpa ampun.






