PEKANBARU.BUSERJATIM.COM –
Di tengah situasi panas terkait maju dan mundurnya jadwal Muktamar NU ke-34 di Lampung, ada yang menarik dicermati. Yaitu, munculnya Generasi Milenial NU sebagai Calon Ketua Umum (Caketum) PBNU 2021-2026 dari Tanah Sumatera, yang ternyata adalah salah satu Cucu Dewan Pendiri NU, Syekh KH. Humaidi Sholeh. Bahkan sejumlah Ulama dan Kyai Sepuh NU baik di Jawa, Sumatera maupun Sulawesi telah memberikan restu kepadanya. Sehingga, Muktamar NU di Bumi Gajah nanti tak hanya dihiasi oleh dua calon yang sudah bisa dipastikan akan memunculkan polarisasi dukungan. Siapakah dia? Bernama lengkap KH. Abdul Khalim Mahali, Lc, LL.B (Hons), MPIR. Gus Mahali, panggilan sehari-hari Caketum PBNU yang murah senyum ini, telah melakukan Safari Akbar ke Para Ulama dan Kyai Sepuh NU ke berbagai daerah. Pengalamannya di organisasi kemasyarakatan-kegamaan pun sudah teruji. Misalnya, Gus Mahali mendirikan NU Istimewa (PCI NU) Pakistan pada tahun 2005 bersama sejumlah rekannya dari tanah air saat masih kuliah Kampus International Islamic University (IIU) Islamabad. Misalnya, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid Pengasuh Ponpes Al-Mahrusiyyah Kediri; Gus Afifuddin Ponpes Al-Fatah Lamongan, keduanya di Jawa Timur. Lalu, KH. Muhammad Niam Sutaman, LL.M, Gus Faridu Ashrih, Gus Isyrokh Fuadi: mereka alumnus Ponpes Mathali’ul Falah asuhan Syekh KH. Sahal Mahfudz Rois Aam PBNU 1999-2014 asal Pati, Jawa Tengah. Di tanah air, Gus Mahali menjabat Dewan Syuriah PWNU Provinsi Riau Periode 2015-2020 dan juga Dewan Pengurus MUI Provinsi Riau dari tahun 2015 hingga sekarang.
Kelahiran Meranti, Berpendidikan Hingga Luar Negeri
Gus Mahali lahir di Batang Malas, Kec. Tebing Tinggi Barat, Kab. Kep. Meranti Provinsi Riau. Ayahnya bernama Muzakki Umar, alumnus Ponpes Benda, pare, Kediri, Jawa Timur, dilahirkan di desa yang sama. Beliau wafat di usia 68 tahun pada tanggal 21 Juli 2005 beberapa jam setelah mengimami Sholat Shubuh di Masjid Al-Mujahidin Batang Malas seperti biasanya. Ibunda Gus Mahali bernama Nyai Hj. Zainab (81 th), dilahirkan di Pekajangan, Cirebon Jawa Barat karena saat itu ayahnya, KH. Humaidi Sholeh, mengemban misi dakwah dari Kota Salatiga, Jawa Tengah. Nyai Zainab nyantri di Ponpes Mambaul Ulum Denanyar, Jombang. Pesantren ini adalah yang pertama di kalangan Nahdliyyin yang dibuka untuk santri puteri dibawah kepemimpinan KH. Bisri Sanshuri sekaligus besan Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari.
Di tanah kelahirannya, Gus Mahali sejak kecil mengaji Al-Quran dari Ibundanya dan ke Kakeknya KH. Mansyur yang dikenal fasih dalam ilmu tajwid. Juga ke pamannya, Syekh H. Ubaidillah yang adalah Badal Tarekat Qodiriyyah Wanaqsyabandiyah. Anak kelima dari enam bersaudara ini menamatkan Pendidikan Dasar di Madrasah Ibtidaiyyah (MI) dan SD Negeri 024 di kampung halamannya termasuk tingkat menengahnya, di MTs Raudhlatul Hidayah Batang Malas. Tahun 1992, ia merantau, nyantri di Ponpes Al-Falah, Pedekik, Kab. Bengkalis milik Kyai Muhammad Darwis yang merangkap Kholifah Thoriqoh se-Kabupaten Bengkalis. Gus Mahali mengaji Ilmu Nahwu dan Shorof (tata bahasa Arab) di malam hari, siangnya bersekolah di Madrasah Aliyah YPPI (Yayasan Pesantren Pendidikan Islam) yang dikepalai KH. Abdullah HM, alumnus Ponpes Thawalib Padang Panjang Sumatera Barat sekaligus pengajar mata pelajaran Tafsir Ilmu Tafsir.
Setamat Madrasah Aliyah, Gus Mahali melanjutkan studi keluar negeri. Ia tiba di Islamabad, Ibukota Republik Islam Pakistan pada 12 Juli 1995 dan terdaftar di Fakultas Syariah & Law IIU Islamabad. Mengingat tidak boleh mahasiswa mengambil mata kuliah sebelum ikut tes kemampuan bahasa asing, maka Gus Mahali menghabiskan 1 semester di Lembaga Bahasa Arab dan 2 semester di Lembaga Bahasa Inggris. Setelah mulai mengikuti perkuliahan secara resmi, Gus Mahali mulai dididik langsung oleh Para Dosen dari berbagai Kawasan di dunia Islam. Hal ini dikarenakan Kampus IIU Islamabad adalah milik OKI (Organisasi Konferensi Islam) beranggotakan negara-negara Islam. Para Dosen tersebut adalah lulusan sejumlah universitas terkemuka di kawasan Eropa dan Amerika serta Masyayaikh atau Ulama dari Timur Tengah seperti alumnus Universitas Al-Azhar dan Universitas Darul Ulum di Kairo, Universitas Madinah dan Ummul Quro, Mekah, Arab Saudi, serta berbagai universitas di Yaman, Sudan, dan Suriah.
Seluruh didikan Para Mahaguru dari Timur Tengah, Eropa dan Asia tersebut telah membentuk karakter Gus Mahali sebagai seorang intelektual muda Muslim dan calon pemimpin yang mumpuni. Tidak heran jika banyak kalangan berharap Gus Mahali akan menjadi “jembatan alternatif” pada menguatnya relasi Arab-Eropa-Asia melalui peran aktif Organisasi NU sebagai sebagai Non Government Institution. Pada Juni 2001, Gus Mahali menyelesaikan S-1 nya dengan gelar Law Legal Bachelor (LL.B Hons). Lalu tes masuk Program S-2 di Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Pada Maret 2005, Gus Mahali mengikuti wisuda di kampusnya, yang diadakan setiap 5 tahun sekali.
Mengamalkan Wirid Malam Hari
Selama menimba ilmu di luar negeri, Gus Mahali telah mengarang buku setebal 400 halaman berjudul “Membongkar Ambisi Global AS” (Pustaka Sinar Harapan: Jakarta, 2003). Buku ini mengupas tuntas agenda besar Washington dalam menggelar mesin perang ke Afghanistan atas nama memerangi terorisme internasional pasca runtuhnya Menara Kembar di New York 11 September 2001. Dalam buku ini diuraikan mengapa Amerika berperang hingga ke Irak tahun 2003. Tidak ada kaitan konflik agama dalam buku ini. Gus Mahali murni menyoroti kebijakan negara Amerika, yang secara ekonomi berusaha menguasai cadangan minyak dunia. Kiprah Gus Mahali lainnya dalam bidang akademik-intelektual adalah ia dirikan CSAS (Center for South Asian Studies) di Islamabad, Ibukota Pakistan. Banyak mahasiswa Asia Tenggara dan Afirika yang ikut serta meskipun lembaga riset ini Gus Mahali dirikan awalnya untuk Para Mahasiswa Indonesia saja.
Memang, Gus Mahali sendiri sudah banyak tanda aneh didalam dirinya. Sejumlah temannya di Ponpes Al-Falah Pedekik Bengkalis, Riau menuturkan metode belajar Gus Mahali terbilang unik. Sering pula tak masuk kelas saat Aliyah. Namun, bisa dipastikan ia selalu masuk rangking 10 besar. Bahkan, Gus Mahali satu-satunya siswa di Madrasah Aliyah YPPI Bengkalis yang memperoleh nilai 9 bahasa Arabnya sejak sekolah itu didirikan puluhan tahun lalu. Padahal, Ustadz Mill sang guru bahasa Arab yang juga satu-satunya figur Ulama Kab. Bengkalis yang ahli Qiroah Sab’ah tidak pernah ragu memberi nilai 2 atau 5 kepada para siswanya. Tidaklah heran jika Gus Mahali mengharumkan nama Ponpes Al-Falah saat menjadi Juara I Lomba Baca Kitab Kuning saat masih kelas 2 Aliyah. Selain mengamalkan wirid “Robbi Zidni ‘Ilman” sebanyak 1000x disetiap keheningan malam, Gus Mahali meninggalkan makanan bernyawa sejak masuk tahun kedua di bangku Aliyah. Cara menghafal seluruh mata kuliah yang dipelajarinya juga tak lazim. Gus Mahali akan membuat catatan kecil lalu di sore hari ia melaju dengan sepeda motor bututnya, berhenti di lapangan sepak bola atau halaman kampusnya. Mulailah ia berjalan lurus dan balik lagi sambil menghafal. Ia akan kembali melaju ke tempat lain membawa hafalannya sambil meninggalkan kepulan asap motor Yamaha nya. Makanya, pernah Gus Mahali diprotes beberapa sahabatnya yang mengatakan kesana-kemari tancap gas, tetapi memperoleh nilai bagus saat ujian akhir semester. Namun, sosok milenial NU pemilik lesung pipit ini hanya tersenyum simpul ketika di-bully.
Gus Mahali menjabat sebagai Dewan Syuriah PCI NU Pakistan. Namun, jabatan itu ditinggalkannya karena harus kembali ke tanah air pada tanggal 28 Mei 2005. Setahun sebelumnya, tepatnya musim salju 2004, Gus Mahali menyelesaikan penulisan AD/ART Organisasi Mahasiswa Indonesia di Pakistan atas permintaan para mahasiswa senior disekelilingnya, dan diberi nama PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Pakistan.
Berkarir di sejumlah universitas di Jakarta
Di Jakarta, Gus Mahali memulai karirnya sebagai Dosen Ilmu Hukum pada Universitas Islam Attahiriyyah (UNIAT) Jakarta Timur tahun 2006. Lalu, Dosen FISIP Program S1 dan S-2 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ); Dosen FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) dan Dosen FISIP Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN) Jakarta. Gus Mahali juga mengajar di Fakultas Hukum Kerjasama UNIAT-Mabes Polri di Markas Komando Brimob Kelapa Dua Ciracas dan Mako Brimob Kedung Halang Bogor, Jawa Barat disamping di sejumlah polsek di wilayah DKI Jakarta. Ia juga bergabung di lembaga riset Pusat Studi Hubungan Internasional yang dinaungi FISIP Universitas Indonesia pimpinan Dekan FISIP Dr. Hariyadi Wirawan. Tahun 2008, Gus Mahali hijrah ke Malaysia. Ia meneruskan studi S-3 nya di National University of Malaysia, Selangor Darul Ehsan di jurusan Ilmu Politik dan Strategi dengan tajuk disertasi “Hubungan Bilateral Indonesia-Malaysia dalam Isu TKI, Tumpang Tindih Klaim Perbatasan, dan Illegal Logging”.
Studinya ini pun langsung difasilitasi oleh Duta Besar Malaysia di Indonesia Datuk Muhammad Zain dan dimonitor oleh Wakil Duta Besar Malaysia di Jakarta Datuk Aziz Bin Harun. Malaysia memiliki kepentingan agar hubungan kedua negara tetap berjalan lancar dengan dasar pemikiran bahwa kendala pada relasi bilateral mereka bisa menyebabkan instabilitas di Kawasan regional ASEAN. Karena itulah, Gus Mahali sering menulis di media massa nasional seperti Republika, SINDO, dan berbagai harian cetak lainnya dalam rangka iktu menjaga hubungan bilateral Indonesia-Malaysia. Gus Mahali juga menjabat Peneliti Senior di MEITRANS (Middle East Transformative Studies) dibawah FISIP Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta. Metro TV menghadirkan Gus Mahali tahun 2008 untuk wawancara terkait nasib perang melawan terorisme internasional yang dilakoni Amerika Serikat di Afghanistan. Lalu kembali diminta analisanya dalam siaran Indonesia Morning berbahasa Inggris terkait isu Ahmadiyah sebagai aliran sesat di Indonesia. Gus Mahali pun diundang Global TV untuk menjadi narasumber tentang solusi permasalahan Ahmadiyah bersama Prof. Dr. Azyumardi Azra Guru Besar UIN Jakarta pada tahun 2010.
Pindah Kiblat ke Dunia Sosial-Kemasyarakatan
Tahun 2010 Gus Mahali pulang kampung. Ia mendirikan Majlis Ta’lim Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Wajam’iyyah Al-Istighosah (RASAJATI). Banyak alumnus ponpes yang bergabung dengannya dan sejumlah kegiatan keagamaan berskala besar pun telah dilaksanakannya. Selain kegiatan zikir di setiap malam Senin, Gus Mahali juga mengajar Kitab Kuning bersama Kyai Syahruddin Kasim, salah satu tokoh milenial yang dikenal santun, bersih dan tidak masuk ke partai politik manapun. KH. Syahruddin Kasim adalah alumnus Ponpes Lirboyo Kediri Jawa Timur. Tidak lama setelah itu, 27 Agustus 2010, diselenggarakan “Tablig Akbar dan Istighosah Kubro- IV” yang dihadiri langsung oleh KH. Imam Yahya Mahrus Ali Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri Jawa Timur yang juga Dewan Penasehat Kodam V Brawijaya. Atas perintah Kyai Imam Yahya pula Gus Mahali mendirikan Majlis Sholawat Nabi dan Al-Barzanji pada tahun 2011, pertama di seluruh Kabupaten Kepulauan Meranti. Menurut Kepala Kanwil Kemenag RI Provinsi Riau Drs. H. Tarmizi Tohor, MA juga Ketua PWNU Riau saat sambutan Maulid Nabi di Majlis Ta’lim RASAJATI tahun 2016, peralatan di Majlis Sholawat Nabi dan Al-Barzanji ini adalah satu-satunya di seluruh Bumi Melayu Riau karena mengggabungkan seni klasik beraliran Jawa, Melayu dan Arab. Setelah itu, Majlis Sholawat atau Grup Hadroh telah booming ke seluruh pelosok Meranti. Gus Mahali memegang posisi Pengasuh sementara KH. Syahruddin Kasim alah Pimpinan Utama. Setelah 10 tahun membuat berbagai terobosan, pada Januari 2021 KH. Syahruddin kasim telah secara resmi menerima pendaftaran santri putra dan putri di Ponpes Raudhatul Ulum yang diasuhnya.
Diminta Maju Sebagai Kandidat Ketua Umum PBNU
Gus Mahali mengungkapkan, ia mengikuti bursa Kandidat Ketua Umum PBNU di Muktamar Lampung atas perintah sejumlah Kyai NU. Tentunya Gus Mahali telah lolos uji agenda besar apa saja yang akan dilakukannya jika kelak terpilih sebagai Pimpinan Tertinggi PBNU. Selain itu, agar tercipta suasana sejuk mengingat situasi telah mulai memanas dikarenakan hanya ada dua calon, yaitu petahana KH. Said Agil Siroj dan KH. Yahya Staquf yang saat ini menjabat Katib Aam PBNU. Menurut Gus Mahali, selaku Tuan Rumah Penyelenggara Muktamar NU, wilayah Sumatera secara khusus juga perlu memiliki Calon Ketua Umum PBNU tersendiri sekaligus respresentasi luar Jawa. Gus Mahali meyakini bahwa Para Ulama dan Kyai NU di Pulau Jawa sangat demokratis. Buktinya, PBNU pernah sekian lama dipimpin almarhum Dr. KH. Idham Chalid asal Kalimantan dari tahun 1956 hingga 1984. Sementara Pulau Sumatera belum pernah memimpin PBNU sejak Organisasi Ulama ini berdiri 31 Januari 1926.
Banyak petuah yang telah diberikan kepada Gus Mahali saat melakukan safari ke Ulama dan Kyai NU. Gus Mahali berjanji untuk konsolidasi akbar internal antara PBNU dengan PWNU dan PCNU se-Indonesia melalui berbagai kegiatan berskala besar dan masif. Sehingga, Nahdliyyin bisa merasakan kedekatan hubungan dengan Para Petinggi PBNU.
Meneruskan Perjuangan KH. Humaidi Sholeh (1925-1961)
Gus Mahali ingin meneruskan perjuangan besar kakeknya, yaitu KH. Humaidi Sholeh yang dulunya mempertemukan KH. Wahab Hasbullah dengan Raja Arab Saudi Ibnu Saud tahun 1925 saat Kyai Wahab membawa misi dari Para Ulama Indonesia agar Makam Rasulullah SAW tidak dihancurkan. Kyai Humaidi hijrah ke Universitas Al-Azhar Mesir setelah situasi di Mekah tidak lagi kondusif akibat menguatnya Paham Wahabi. Beliau mengarang Kitab Al-Instishor Wat Tarjih Liddinis Shohiih yang dicetak di Kairo, Mesir tahun 1932. Kitab ini, menurut Ari Ginanjar Sya’ban, Lc alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir yang mengajar di Universitas NU Jakarta, adalah karya monumental pertengahan abad ke-20 yang paling langka tentang Kristologi. Kitab ini sedang diterjemahkan oleh KH. Shumyani Aziz menantu Almarhum KH. Zainuddin Djazuli Ponpes Al-Falah Ploso Kediri. Kyai Shumyani adalah mertua KH. Yusuf Chudlori Ponpes API Tegalrejo Jawa Tengah.
Perjuangan KH. Humaidi Sholeh yang berkiprah di PBNU bersama KH. Wahab Hasbullah dimulai tahun 1933 hingga wafatnya di tahun 1961. Kiprah kakek Gus Mahali ini tercatat di buku Biografi KH. Wahid Hasyim yang terbit tahun 1956 dimana KH. Humaidi Sholeh mengisi pengajian untuk Fatayat atau Muslimat NU di acara Kongres Nahdlatul Ulama
(sekarang bernama Muktamar NU) mengggunakan satir atau pembatas. Lalu KH. Wahab Hasbullah yang memimpin doa selesai pengajian. KH. Humaidi Sholeh juga meresmikan PCNU Cibeber, Cilegon, Banten bersama KH. Wahab Hasbullah tahun 1935. Ibunda Gus Mahali, Nyai Hj. Zainab adalah Mustasyar Muslimat NU di Kab. Kep. Meranti, Riau. Sementara Ayahanda Gus Mahali, yaitu H. Muzakki Umar adalah Satuan Banser yang dilatih sebagai sukarelawan perang oleh KKO (baca: Marinir) tahun 1962 di Meranti saat turun perintah dari Presiden Soekarno untuk Komando Ganyang Malaysia (KOGAM).
Direstui Ulama dan Kyai Sepuh NU
Dalam Safari Akbarnya ke Pulau Jawa dan Sumatera akhir Oktober 2021 lalu, Gus Mahali telah direstui sejumlah Ulama/Kyai Sepuh NU. Diantaranya adalah Ulama Jawa Tengah Maulana Habib Lutfi Bin Yahya (Rois Aam Organisasi Thoriqoh An-Nahdliyyah se-Indonesia yang juga Wantimpres RI). Lalu, Ulama Karismatik Banten Abuya Muhtadi Dimyathi yang Pengasuh Ponpes Raudhlatul Ulum. Juga Ulama Madura KH. Ahmad Fahri Suyuti Pengasuh Ponpes Al-Bustan Banyugiri, Kab. Sumenep serta Rois Syuriah PWNU DKI Jakarta KH. Muhyiddin Ishaq Pengasuh Ponpes Miftahul Ulum, Jakarta Selatan. Gus Mahali juga direstui KH. Nasir Asy’ari Sesepuh Ulama NU Salatiga yang juga Pengasuh Ponpes Masyitoh. Melalui sambungan seluler,
Ketua DPRD Kab. Lamongan H. Abdul Ghofur Abbas, MBA juga mendukung Gus Mahali maju sebagai Ketua Umum PBNU. Sedangkan Pengasuh Ponpes Al-Islah Doro Pekalongan, KH. Akrom Chumaidi yang merupakan trah Kesultanan Cirebon ke-16 memberikan restunya sejak lama.
Di Sumatera, Ulama Sepuh Sumatera Utara Syekh KH. Mahmuddin Pasaribu yang juga Rois Syuriah PWNU Provinsi Sumatera Utara yang dikenal sebagai Tuan Guru Besar Ponpes Al-Mustafawiyyah Purba Baru, Kab. Mandailing Natal merestui Gus Mahali. KH. Abu Syuja’ Sesepuh NU Kab. Darmasraya Provinsi Sumatera Barat juga ikut memberikan restunya. Bahkan beliau datang ke Kota Pekanbaru menempuh 8 jam perjalanan hanya untuk menegaskan dukungan nyatanya. Sejumlah aktivis NU di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau belum lama ini memberi dukungan penuh kepada Gus Mahali. Diperoleh berita terakhir bahwa Pimpinan Forum Silaturrahim Ulama se-Provinsi Sulawesi Tenggara KH. Nurkholis juga ikut memberikan support. Di Kota Palembang, Gus Mahali direstui oleh Ulama Sepuh Al-Habib Taufiq Bin Ali Bin Syahaab.
Dari tanah kelahirannya di Riau, Gus Mahali direstui oleh Ibu Nyai Hj. Siti Aminah Ubaidillah Pengasuh Ponpes Nurul Huda Al-Islami Kota Pekanbaru; KH. Ramlan Sesepuh NU Kab. Bengkalis; KH. Syahruddin Kasim Pengasuh Ponpes Raduhatul Ulum Playar, Kundur, Kab. Kep. Meranti; KH. Ahmad Nur Belilas, Kab. Indragiri Hulu; Habib Ahmad Bin Agil BSA Penasehat Majlis Ta’lim Darul Hasyimi (MTDH) Kota Pekanbaru; T. Rusli Ahmad Ketua Umum DPP Santri Tani NU, dan masih banyak lainnya. Bahkan, rumah Gus Mahali yang sejak dulu tak pernah sepi tamu kini semakin banyak didatangi para tamu terkait berita majunya sebagai Caketum PBNU 2021-2026.
Berharap Semua Pihak Jaga Kehormatan NU
Menyikapi isu adanya money politics dan sejumlah intrik berupa penggunaan kekuasaan untuk pemenangan calon tertentu bahkan di pra Muktamar NU ke-34 Lampung ini, Gus Mahali justeru menyampaikan dimana-mana agar tidak saling menuduh sesama warga Nahdliyyin. Ia tidak ingin mengomentari karena belum bisa dibuktikan. “Saya tidak
persalahkan atau mengecam siapapun. Silahkan saja sejumlah orang bermain uang atau menggunakan intrik tertentu. Yang penting saya tidak demikian, meskipun saya pasti sangat bersedih jika kekacauan yang terjadi di Muktamar NU ke-33 di Jombang kembali terjadi di Lampung. NU ini adalah organisasi yang didirikan Para Ulama, yang wajib kita jaga bersama nama kehormatannya”, ungkap Gus Mahali.
Terhadap segala persiapan pelaksanaan Muktamar Lampung yang dipersiapkan Panitia Muktamar, Gus Mahali sangat mengapresiasi termasuk peran Pemerintah Provinsi dan seluruh pihak di Lampung.
Jurnalis ED






