Ngawi – Peringatan Hari Statistik Nasional (HSN) 26 September 2025 menjadi momentum penting bagi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ngawi untuk menyampaikan perkembangan ekonomi daerah. Bertempat di halaman kantor BPS Ngawi, kegiatan HSN tahun ini mengangkat tema “Statistik Berdampak untuk Indonesia Maju” sekaligus dirangkaikan dengan publikasi data Distribusi dan Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha Triwulan II-2025.24/9
Berdasarkan rilis BPS, struktur ekonomi Ngawi masih didominasi sektor tersier dengan kontribusi mencapai 51,68%, disusul sektor primer (27,25%), dan sektor sekunder (21,07%).
Namun, dari sisi pertumbuhan, sektor primer (pertanian, kehutanan, dan perikanan) masih tertekan. Pertumbuhan quarter to quarter (q-to-q) tercatat minus 22,77%, sementara secara year on year (y-on-y) minus 7,95%. Penurunan ini utamanya disebabkan menurunnya produksi pertanian musiman, meski hasil perikanan baik tangkap maupun budidaya mengalami peningkatan.
Sebaliknya, sektor sekunder dan tersier mencatat pertumbuhan positif. Pada q-to-q, sektor sekunder tumbuh 2,12% dan sektor tersier 2,06%. Sedangkan secara y-on-y, sektor sekunder naik 8,33% dan sektor tersier tumbuh 5,91%.
BPS mencatat, beberapa faktor yang mendorong pertumbuhan sektor non-primer di antaranya:
Momentum libur nasional dan hari besar keagamaan (long weekend) yang meningkatkan mobilitas serta kunjungan wisatawan.
Peningkatan realisasi proyek pemerintah.
Kenaikan investasi baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Kepala BPS Ngawi menegaskan bahwa data statistik yang akurat menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan. “Data bukan hanya angka, melainkan arah pembangunan. Pertumbuhan sektor tersier dan sekunder perlu dimanfaatkan, sementara tantangan di sektor primer harus segera diatasi agar pertumbuhan ekonomi lebih seimbang,” ujarnya.
Dengan publikasi ini, BPS berharap masyarakat dan pemangku kebijakan dapat lebih memahami kondisi riil perekonomian Ngawi, sekaligus menjadikan data statistik sebagai pijakan menuju pembangunan yang lebih inklusif.






