NGAWI,BUSERJATIM.COM –, 25 Juni 2025 — Proyek peningkatan infrastruktur jalan yang sedang berlangsung di sepanjang ruas Plosokerep hingga Geduro, Kabupaten Ngawi, mulai menuai keluhan dari warga. Selain menimbulkan ketidaknyamanan, debu dari aktivitas proyek ini juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan penurunan pendapatan para pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
Warga sekitar mengeluhkan dampak debu proyek yang menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan. Beberapa warga bahkan menyebutkan mengalami sesak napas dan batuk berkepanjangan akibat paparan debu yang tak kunjung reda.
“Semenjak proyek ini dimulai, kami harus menutup rapat rumah. Tapi tetap saja debunya masuk. Anak saya jadi sering batuk dan sesak,” ujar Sulastri, warga Plosokerep.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh para penjual makanan di sepanjang jalan yang terdampak. Debu yang berterbangan menyebabkan dagangan menjadi kotor dan tidak higienis, membuat pembeli enggan mampir. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan harian mereka yang mengalami penurunan drastis.
“Sebelum ada proyek, warung saya bisa laku sampai sore. Sekarang, baru siang sudah tutup karena tidak ada yang mau makan dekat jalan berdebu seperti ini,” keluh Sardi, pedagang nasi di pinggir jalan Geduro.
Proyek pembangunan jalan tersebut diketahui memiliki nilai kontrak sebesar Rp14.363.000.000 yang bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) Tahun Anggaran 2025. Pelaksanaan proyek ditangani oleh CV. Makmur Abadi dengan masa pekerjaan selama 210 hari kalender, sedangkan pengawasan teknis dilakukan oleh CV. Reka Cipta Konsultan.
Meski proyek ini bertujuan untuk memperbaiki akses transportasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang, pelaksanaannya di lapangan dianggap belum memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan warga. Minimnya penyiraman jalan dan pengendalian debu menjadi sorotan utama masyarakat.
Warga berharap pihak pelaksana proyek dan pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan selama masa pengerjaan, termasuk melakukan penyiraman rutin, memasang pelindung debu, dan memberikan kompensasi kepada pelaku usaha yang terdampak secara langsung.
“Silakan membangun, tapi tolong perhatikan juga hak-hak warga. Jangan sampai pembangunan yang seharusnya membawa manfaat, malah membuat rakyat sengsara,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Masyarakat kini menunggu itikad baik dari pihak terkait agar proyek tetap berjalan namun tanpa mengorbankan kesehatan dan penghidupan warga yang berada di sekitar lokasi pekerjaan.
tim : bersambung






