Rakyat Dukung Gagasan Redenominasi, Purbaya Dinilai Visioner dan Realistis

BUSERJATIM.COM –

Malang— Dukungan terhadap wacana redenominasi rupiah yang kembali disuarakan oleh ekonom dan tokoh publik Purbaya Yudhi Sadewa semakin menguat di berbagai lapisan masyarakat. Warga menilai gagasan tersebut bukan hanya realistis, tetapi juga sejalan dengan kebiasaan yang telah lama berjalan di kalangan pelaku usaha.

Bacaan Lainnya

“Para pedagang sebenarnya sudah lama melakukan bentuk sederhana dari redenominasi. Di menu-menu warung, kafe, atau toko, harga sudah ditulis 10 untuk maksud 10 ribu. Masyarakat sudah terbiasa dengan pola seperti itu,” ujar Vikka Dewi, salah satu pelaku UMKM di Malang, Jumat (7/11/2025).

Menurutnya, kebiasaan itu menunjukkan kesiapan masyarakat terhadap penerapan redenominasi resmi dari pemerintah. Dengan sistem baru, transaksi bisa lebih efisien, pencatatan keuangan menjadi sederhana, dan nilai rupiah akan tampil lebih kuat di mata dunia.

Rencana itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 70 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2025-2029. PMK 70/2025 ditetapkan 10 Oktober 2025 dan diundangkan pada 3 November 2025. Pihaknya menargetkan RUU Redenominasi dapat selesai pada 2026 atau 2027.

“RUU tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi) merupakan RUU luncuran yang rencananya akan diselesaikan pada 2027,” tulis aturan tersebut, dikutip Jumat (7/11/2025).

Dukungan juga datang dari berbagai kalangan, termasuk pengamat kebijakan publik Erick Prasetyo, yang menilai Purbaya memiliki visi ekonomi yang jauh ke depan.

“Redenominasi bukan sekadar menghapus nol di mata uang, tapi simbol pembaruan sistem ekonomi nasional agar lebih efisien, transparan, dan berkelas dunia,” ungkap Erick.

Selain mendukung gagasan redenominasi, masyarakat juga menyuarakan aspirasi agar desain dan bahan uang Indonesia turut diperkuat. Salah satu ide yang mencuat adalah mengembalikan nilai dan marwah mata uang melalui penggunaan bahan logam mulia untuk koin.

“Kalau bisa, uang koin ke depan berbahan dasar perak atau logam mulia lain. Bukan hanya sebagai alat tukar, tapi juga simbol kejayaan ekonomi bangsa seperti masa lalu, ketika uang Indonesia memiliki nilai intrinsik yang dihormati,” ujar salah satu warga Malang.

Masyarakat berharap wacana redenominasi yang diinisiasi oleh Purbaya mendapat tindak lanjut serius dari pemerintah. Bukan hanya pada aspek teknis moneter, tapi juga pada penguatan nilai filosofis rupiah sebagai lambang kedaulatan dan kebanggaan nasional.

Pos terkait