Ngawi, Buser Jatim. com
19 September 2025 – Tradisi tahunan Bersih Desa kembali digelar oleh masyarakat Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, pada 14–16 September 2025 lalu. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan menjadi momentum penuh makna, tak hanya sebagai bentuk bakti kepada leluhur, namun juga sebagai sarana mempererat persaudaraan, menjaga kelestarian alam, serta melestarikan warisan budaya.
Dimulai dengan Kerja Bakti dan Ziarah Leluhur
Rangkaian kegiatan diawali pada Sabtu (13/9) dengan kerja bakti membersihkan empat makam, satu sendang, serta punden desa. Warga secara bergotong royong membersihkan area sakral tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini telah membuka dan merintis kehidupan di Desa Dero.
Memasuki hari Minggu Wage (14/9), masyarakat kembali berkumpul untuk melakukan ziarah kubur dan doa bersama. Kegiatan ini menjadi sarana memanjatkan syukur atas berkah rezeki dan keselamatan yang diterima selama ini.
Malam harinya, pada malam Senin Kliwon, warga mengikuti acara dzikir, tahlil, serta doa bersama di kantor desa. Suasana khusyuk berlanjut hingga dini hari dalam bentuk tirakatan di Sendang Beji, sebagai simbol perenungan sekaligus harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa diberkahi.
Ritual Keduk Beji dan Pelestarian Alam
Puncak kegiatan berlangsung pada Senin (15/9), dengan digelarnya ritual utama berupa penyembelihan kambing di Sendang Beji, dilanjutkan dengan prosesi keduk Beji—yakni menguras mata air yang menjadi sumber kehidupan warga.
Prosesi ini diiringi alunan gamelan dan lantunan sinden yang menambah khidmat suasana. Warga yang turun langsung ke sendang membersihkan air dari kotoran dan sampah, memastikan alirannya tetap jernih dan normal.
Sendang Beji sendiri memiliki peran penting, tidak hanya sebagai sumber pengairan sawah di selatan Waduk Pondok, tetapi juga sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di Desa Dero, Desa Gandong, dan Desa Suruh. Dengan demikian, ritual keduk Beji menjadi bentuk nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Hiburan Rakyat dan Doa Bersama
Setelah prosesi pembersihan sendang, warga melanjutkan kegiatan dengan selamatan dan doa bersama, diikuti pertunjukan langen tayub yang menjadi hiburan rakyat. Siang hari, pertunjukan dibatasi tiga putaran, sementara pada malam harinya berlangsung lebih meriah hingga dini hari, menjadi ajang kebersamaan dan silaturahmi antarwarga.
Sebagai penutup, Selasa malam (16/9), digelar pengajian umum yang menjadi puncak doa bersama. Acara ini menegaskan bahwa rangkaian Bersih Desa sarat dengan nilai religius, sosial, dan budaya.
Warisan Luhur yang Terus Dilestarikan
Kepala Desa Dero, Ariyadi, dalam keterangannya kepada tim website desa menyampaikan bahwa Bersih Desa bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan warisan luhur yang penuh makna.
> “Bersih Desa adalah wujud syukur atas berkah yang kita terima, sekaligus menjaga warisan leluhur yang telah memberi kehidupan bagi kita semua,” ungkapnya.
Ia juga menekankan nilai kebersamaan dalam kegiatan ini. “Warga dari berbagai kalangan ikut terlibat, bergotong royong, dan saling mendoakan. Inilah yang membuat kebersamaan Desa Dero tetap terjaga.”
Ariyadi berharap agar generasi muda tetap melestarikan tradisi ini. “Kami ingin anak cucu kita tidak hanya tahu, tetapi juga merasakan bagaimana nilai budaya ini menyatukan kita, menjaga alam, serta menghormati leluhur,” pungkasnya.Adv /red






